Muhida Goes to Bali
“Percayalah, tangkapan lensa mata lebih indah
daripada lensa kamera“
Kamis,
15 Januari 2026 (Day 1)
Diawali
dengan pawai isra’ mikraj di pagi hari, lalu guru-guru pulang dan berkumpul lagi
di sekolah pukul 14.00 di Jalan Malik Ibrahim. Rencananya bis berangkat sekitar pukul
15.00 daaaaan taraa masih terbilang tepat waktu karena sekitar jam 15.05 kita sudah mulai jalan. Jalan ke arah
Sekardangan terusss menjelajah jalan arteri sampai masuk tol.
Utama
Raya Beach
Tujuan pertama kita ke Utama Raya Beach buat makan malam. Sebelum
sampai, kami melewati PLTU Paiton. Sudah nggak asing lah ya.. Dua kali ke Bali
ngelewati Paiton tuh kena malem hari, baru ini sepertinya dapet lihat pas sore.
Nyala lampunya keren dong. Jadi masih kelihatan bangunannya. Nah, fyi kalau
nggak salah lepas dari Paiton kami ke toilet di pom bensin dan ini bersih
sekali. Pom bensinya ada masjid dan beberapa kamar mandi gratis, recomended
poll.
Estimasi datang di jam 6 sore, tapi dengan laju cepat, bis 2
datang awal sekitar pukul 5. Dateng langsung foto dulu lah buat pap kalau sudah sampai. Langsung
mulai ke toilet dan berwudlu untuk nunggu sholat maghrib. Eh ibu-ibu foto, bapak-bapak diam-diam udah main ke pantai aja. Setelah sholat,
barulah kita makan malam. Selesai makan, aku, Bu Dina dan Bu Puji menyempatkan
waktu untuk main ke pantainya. Ternyata lumayan juga sih perjalanannya (kalau jalan). Buat
aku pantai ini keren. Walau aku ke pantainya pas langit udah gelap. Oh iya, kalau kata Bu Dina, "Bu Puji itu umur
boleh banyak, tapi kekuatan masih sama kaya anak usia 27" intinya gitu.
Tapi oke banget Bu Puji jalan juga nggak ngeluh.
Air laut pas pasang dan kami bertiga hanya di bagian pinggir paving (nggak sampai ke bawah ke bibir Pantai) karena hari sudah gelap dan air laut sampai meninggi berlomba-lomba membasahi paving. Asli ini nggak bisa cantik buat difoto, cukup direkam lewat memori mata saja keindahan ini. Di sini, kita hanya dengar debur ombak dan melihat ombak terbentur tembok pinggir pantai dan airnya melayang ke atas.
Sepanjang jalan ke pantai atau balik, sambil merhatikan penginapannya. Emang asyik sih kalau nginep di sini kayanya. Sebelumnya aku cuma diceritain tentang bagusnya Utama Raya ini, but hari ini aku ngerasain sendiri.
Pelabuhan
Ketapang
Sepanjang
jalan milih nggak tidur dan emang kurang bisa nyenyak tidur walau pake kursi
leg rest (maklum masih hari pertama meninggalkan kasur). Tapi dengan gitu, aku
bisa lihat kalau jalanan menuju Banyuwangi ini meninggi, menurun dan miring. Bis
2 juga diingatkan sama Bu Farida "Kalau jalanan naik kita mengucap? Allahu
Akbar, kalau menurun? Subhanallah"
Sampai di dermaga sekitar jam 12 an malam WIB. Menunggu sejenak baru kami antri masuk kapal. Subhanallah, kapal yang kami naiki ini ada tempat tidurnya, kawan. Jadi, ada tempat duduk dan tempat tidur juga. Sepertinya sih ini bukan kelas kapal yang aku naiki saat dua kali ke Bali beberapa tahun lalu. Dua kata untuk pemesanan kapal ini : sangat nyaman. Selain itu, di bagian atas juga bisa digunakan penumpang melihat pemandangan laut dari lantai dua.



.jpeg)

Komentar
Posting Komentar