Cerpen (2) : Dengarkan Curhatku


Dengarkan Curhatku
Pagi yang menyedihkan. Aku bangun, entah kenapa rasanya begitu malas untuk bangun. Sepertinya kemalasanku didukung dengan mimpi burukku semalam.

Aku raih handphone-ku, kulihat sebuah nama kontak dan kupencet untuk meneleponnya. Syukurlah, berdering.

“Halo? Assalamualaikum?” Terdengar suara lembut seseorang yang menerima panggilanku.
Hiks.. hiks.. hiks.. Bukan malah kujawab salamnya, namun aku malah menangis.

“Ada apa, mbem?” tanya si penerima telepon heran.

Aku mengusap air mataku. “Gak tau yah, kok rasanya pengen aja bagi-bagi nangis.. hahaha,” jawabku disusul tertawa layaknya tanpa dosa.

“Dasar!” balas si pemilik suara dari jauh. “Kalau ada apa-apa cerita aja, atau kalau sekedar berbagi tangis, nangis aja. Mungkin aja bebanmu akan berkurang bersamaan dengan keluarnya air matamu atau kata-kata yang kamu ucap.”

“Mungkin aku lagi sedih, tapi entah apa yang bikin aku sedih. Hehehe, terdengar nyebelin dan nggak jelas, ya,” kataku berusaha menjawab tanyanya.

“Enggak kok, wajar.”

“Kamu ini longgar? Atau aku malah ngganggu?” tanyaku sedikit sadar diri karena ini masih pagi.

“Nggak, ceritalah..”

Cerita pun aku mulai. Sekitar hampir dua jam kami bercengkrama, atau lebih tepatnya aku bercerita dan ia menjadi pendengarku. Memang benar kata orang, ngobrol itu asyik. Bahkan sampai lupa waktu.

Aku menengok durasi telpon kami. “Wah hampir dua jam aku cerita dan kamu setia dengerin. Hahaha, aku kurang sadar diri ya, emang..”

“Sama-sama kok. Santuy mah.”

“Kamu nggak ada yang pengen diceritain?” tawarku sambil mengusap air mataku dengan tisu. “Aku dengerin deh.”

“Hmmm...” Terdengar helaan nafas panjang dari seberang telepon. “Aku pengin cerita, tapi... ke orang yang mau dengarin ceritaku.”

“Emang ada yang nggak mau denger ceritamu?” tanyaku heran dengan nada tidak percaya. Memangnya ada orang sejahat itu?

“Aku pernah cerita sih, tapi sudahlah, aku kapok.” Ungkapnya dengan tanpa beban.

“Kok bisa? Hey, jahat dong teman ceritamu..”

“Nggak, bukan jahat. Mereka baik, tapi aku belum menemukan  tempat yang pas aja untuk berbagi cerita.”

“Karena?”

“Setiap aku cerita, selalu disela. Setiap aku cerita, mereka selalu banding-bandingkan ceritaku dengan cerita mereka dengan mengatakan, ‘aku malah pernah ngerasain lebih parah dari kamu’. Padahal, sebenarnya bukan itu yang aku butuhkan.” Dia berhenti sejenak. “Aku ingin mereka dengarkan ceritaku, itu saja.”

Aku mulai sedikit paham dengan yang ia katakan. Aku mulai belajar dari responnya saat aku bercerita hampir dua jam tadi. Dia hanya diam, mendengarkan atau mengatakan “hmm,”iyaa”. Seakan dia siap mendengar ceritaku tanpa menjedanya.

“Saat seseorang bercerita aku belajar untuk menjadi pendengar setia. Walau kadang itu melelahkan. Saat seseorang bercerita kesedihannya, aku belajar untuk tidak menceritakan kesedihanku, namun fokus pada ceritanya,” tambahnya.

“Aku mengerti,” balasku singkat.

“Hehehe, santai.. kok jadi baper gini aku-nya..”

“Makasih udah jadi teman curhatku. Udah mau dengerin ceritaku yang nggak jelas tadi,” ucapku. “Makasih juga udah ngajarin aku buat jadi pendengar setia.”

“Alay lu.. hahaha, aku nggak ngajari, kan aku nggak lagi ngajar.” Balasnya disusul tawa. “Aku mau cerita, tapi nanti kalau ada bahan ya.”

“Okee!”

“Jadi pendengar yang baik, ya, mbem. Nggak semua bisa betah buat dengerin cerita temennya,” pesannya sebelum menutup telepon.

“Hmmm, semoga.”

Komentar

Posting Komentar