Resensi Buku“Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat”
Buku yang saya rekomendasikan untuk para pembaca kali adalah ini genre buku motivasi. Untuk pertama-tama, saya ucapkan terima
kasih pada teman saya, Shinta yang sudah meminjami saya buku keren ini. Amat
memotivasi dan berbobot. Btw, Shinta juga penulis, bisa samperin shinta di sharingshinta@blogspot.com :’)
Judul buku
: ” Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat”
Pengarang :
Mark Marson
Penerbit : Mark
Manson
Tahun
terbit : Februari 2018
Tebal
halaman : 243 halaman
Sinopsis :
“Masa bodo atau bodo amat artinya memandang tanpa gentar
tantangan yang paling menakutkan dan sulit dalam kehidupan dan mau mengambil
suatu tindakan.”
Marson dalam bukunya menjelaskan bahwa tidak ada manusia yang
sempurna sehingga kita harus memilih dengan siapa atau pada apa kita harus
mencurahkan kepedulian kita. Semakin kita memperdulikan banyak orang, semakin
sedikit ruang lingkup kita untuk bergerak dan berpikir.
Ada beberapa mindset dalam hidup yang terkadang perlu
direvisi, bukan untuk merubah diri kita menjadi sosok lain, melainkan justru
menjadi pribadi yang lebih baik versi diri kita sendiri. Contohnya, seperti
tidak menjadikan suatu ‘kegagalan’ sebagai tolak ukur ketidaksuksesan hidup
kita, namun lewat ‘kegagalan’ yang akan memberikan warna dalam cerita sukses
hidup kita. Kemudian salah satu cara untuk bertahan hidup ialah dengan
bertanggung jawab pada apa yang kita jalani, baik itu pilihan hidup kita atau
orang lain. Dan, terapilah kesulitan hidup kita dengan mengatakan “ Saya tidak
memilih kehidupan seperti ini, saya tidak memilih kondisi yang mengerikan ini,
namun saya harus memilih bagaimana untuk menghidupinya. Saya harus memilih
bagaimana saya bisa hidup dengan keadaan ini.”
Hidup akan terus berjalan sampai kematian datang menjemput.
Becker, mencetuskan sebuah “proyek keabadian”, yang mana kita berusaha
membangun suatu diri konseptual yang akan hidup abadi. Inilah mengapa
orang-orang berusaha keras mematrikan nama mereka di gedung, patung, buku.
Alasan yang mendorong untuk meluangkan waktu kita pada orang lain, terutama
anak-anak kita. Dengan harapan, bahwa pengaruh kita –koseptual diri- akan tetap
melampaui batas fisik kita.
Kelebihan
buku :
1. Memberi
wawasan baru pada pembaca dalam hal membentuk pola pikir sederhana.
2. Bahasa
penulisan disusun detail, sehingga memudahkan pembaca mengerti maksud atau ini
si penulis.
3. Tiap sub
bab sangat sinkron dengan judul bab.
4. Mengenalkan
pembaca pada kosa kata baru yang jarang dijumpai dalam percakapan biasa.
5. Gaya bahasa
yang dipakai seakan mengajak pembaca berdiskusi untuk memecahkan suatu masalah
yang sedang dihadapi.
Kelemahan
buku :
1. Buku yang
beratus halaman ini berisi full text tanpa disertai gambar dan pembahasan yang
amat berbobot, memungkinkan sebagian pembaca akan jenuh.
2. Ada
beberapa bahasa Manson yang terdengar vulgar, sehingga buku ini untuk umur 17+
Well, saya punya sedikit opini
untuk buku ini. Saya teringat kata-kata seorang ilmuwan, Albert Einsten bahwa “Ilmu tanpa agama itu buta, agama tanpa
ilmu lumpuh”. Saya membaca buku Marson dengan seksama dan menafsirkan
beberapa teori yang beliau sebutkan dengan ilmu agama. Salah satu topik yang menarik perhatian saya yaitu "proyek keabadian". Saya menemukan cerita yang mirip dengan inti teori ini. Di saat Ibu Khadijah, istri Rasulullah SAW tiada, Rasulullah SAW kerap membagikan makanan kepada teman-teman Khadijah, beliau meneruksan kebaikan Ibu Khadijah sehingga meskipun Ibu Khadijah tiada, namun teman-teman Ibu Khadijah selalu mengingat dan merasa Ibu Khadijah masih ada lewat kebaikan-kebaikan yang diteruskan Rasulullah SAW (:
Komentar
Posting Komentar