JOURNEY 1. Long Time No See LPCA eps 2

JOURNEY 1. Long Time No See LPCA 

eps 2. Malam Keakraban 

23 November 2019

Yang sekolah ya sekolah, yang kuliah ya kuliah, yang kerja ya kerjaa. Eits, yang penting nggak ada yang boleh lupa untuk ikut acara kita refreshing LPCA jam 16.00. Termasuk aku nih yang nggak sabar nungguin sore datang. Kalau lihat jam, eh masih jam 9.00, lihat lagi eh masih jam 12.00.

“Tidur sek mbak biar seger,” kata mama padaku dan Cis, adik perempuanku, yang mengingatkanku supaya tidur siang.

Pernah ngerasain nggak sih kalau mau ada acara atau ada kegiatan yang ditunggu dan kita pengen tidur dulu supaya nggak capek pas acara, eh malah nggak bisa tidur. Nah, itu yang aku rasain tuh. Hehe, tapi hal ini juga dirasakan sama sepupu dan beberapa teman aku ketika akan ada acara. Semacam demam acara kali ya, hahaha! Jangan sampai deh tau-tau bangun, eh jam 5 sore. Kan nggak lucu, ya. 

Saat adzan ashar berkumandang, aku, ayah, mama, dan Cis sholat ashar berjamaah. Lagi-lagi aku masih saja nggak sabaran. Setelah itu, saatnya aku dan Cis mengecek lagi barang-barang yang akan dibawa. Yap, beberapa perlengkapan yang sudah diminta panitia untuk dibawa tidak boleh lupa, seperti jaket karena hawa Tretes yang dingin, alat mandi, alat sholat, baju ganti dan obat-obatan pribadi. Selainnya barang-barang pribadi yang kita butuhkan.

‘Uda deh, in syaa Allah udah semua,’ batinku santai sambil menutup resleteng tasku dan menunggu ayah bersiap-siap mengantar kami kumpul di masjid Al-Mukminun.

.....

“Aku nggowo masker iki.”

“Iki aku nggowo jajan.”

“Wah, tasku koyo nggunung iki.”

“Sek, sek tak nggawe kocomoto sek!”


Euforia piknik sudah terasa nih dari ramenya persiapan temen-temen, apalagi yang cewek-cewek. Ditambah tidak begitu lama aku melihat Bang Jack dan Mas Andy yang lewat depan kami para cewek-cewek dengan membawa gitar. Disambung Mas Yudha, Mas Sandi, Mas Bayu yang membawa terpal, kertas minyak dan persiapan bekal kami selama seharian di sana. Wow, ini mah beneran piknik ya.

“Bisonnya udah dateng,” ucap salah seorang cowok yang bagian memastikan kedatangan kendaraan. Kalau nggak salah, Mas Ekky.

“Yawes ayo mbak-mbaknya sama mas-masnya nanti masuk bison-nya dipisah ya,” Ingat Mas Andy pada kami.

Yassh, bisonnya terlambat hampir setengah jam ini. Sekitar setengah 5 ini baru datang. Oke deh, kita langsung bergegas naik ke dalam bison dengan arahan Mas Ekky. Sedangkan ada beberapa cowok-cowok juga yang pergi duluan naik motor untuk sampai di villa dahulu dan mengkondisikannya. Antara lain Mas Lutfi, Mas Furqon, Mas Diki, dkk.

Hmm... ini masih awal sih, jadi semangatnya masih berkobar. Kelihatan dari temen-temen yang ramai di sepanjang perjalanan. Ada yang buat instastory, bikin tik-tokan, bagi-bagi jajan maupun permen. Terus ada juga sih yang bikin rencana pas sampai villa mau ngapain.

.....

Bison kami berhenti di depan sebuah rumah tepat di waktu maghrib. Kira-kira ini deretan villa-villa memang. Tapi ini bukan villa yang akan kami tempati, melainkan kita harus jalan turun lewat gang. Dan kalau sudah mentok, di sebelah kiri ada villa kita, Sekar Kedaton.

“Bagus ya villanya.. Ayo, ayo masuk!”

Benar memang, ini villa udah jodoh sama kita deh. Kita pengen yang ada kolam renangnya, ada tamannya dan beberapa kamar karena kita bawa rombongan, eh pas banget villa ini. Sempat berdebat masalah villa dari segi harga dan fasilitas, alhasil temen-temen dan pengurus yang bagian milih villa jatuh hati sama ini villa. Enggak salah emang.

Baru masuk aja sudah pada mau milih kamar. Tapi ternyata temen-temen cowok yang tadi sudah mengkondisikan villa dan datang lebih awal dari kita sudah membagi kamar-kamarnya. Mana kamar cowok, kamar cewek dan kamar pengurus bapak-bapaknya. Siapa saja teman kamar kita juga sudah dipilihkan, jadi kita tinggal cari nama kita dan naruh barang deh di kamar tersebut. Beres, kan? Hehehe, nggak perlu pakai drama cemburu sosial perihal masalah milih kamar atau milih teman sekamar.

“Setelah naruh barang langsung persiapan sholat maghrib,” kata Bu Hani mengingatkan kami.

Iya nih, karena keterlambatan dari bison, peserta dan durasi perjalanan, sebenarnya ini sudah lewat dari susunan acara. Yang seharusnya ba’da maghrib ada nasehat pemantapan, dengan terpaksa kita geser di waktu ba’da isya dan dilanjut gamesnya. Well, it’s okay lah. Memang harus ada yang namanya plan A dan plan B.

.....

Ba’da isya, kami kumpul di ruang tengah. Bisa disebut ruang tamu juga ruang tengah sih. Ruangannya lumayan lega ditambah nyamannya sofa dan karpet yang digelar. Oke deh kita siap mendengarkan nasehat pemantapan dari Pak Udi Aminto ini. Sengaja memang kita menghadirkan Pak Udi sebagai penasehat Beliau salah satu pengurus yang nasehatnya bisa diterima baik oleh kami para kaum muda-mudi. Terlihat dari gaya bicara beliau yang tidak jarang menampilkan bahasa-bahasa anak muda zaman sekarang. Menyinggung instagram, sosial media yang membuat anak muda malas, hehehe.


Sayangnya karena waktu penyampaian nasehat pemantapan ini cukup malam, alhasil di hampir selesainya acara ada yang ngantuk, capek atau kedinginan. Maklum sih, pas aku lihat jam sudah jam 10 malam. Padahal nasehatnya mantap, kurang lebih intinya kita sebagai generasi muda harus bisa meneruskan estafet perjuangan orang-orang tua kita dalam hal apapun, terlebih dalam masalah agama. Sebab ketika generasi tua sudah hilang, maka generasi muda-lah yang akan melanjutkan. Ditambah kita diingingatkan supaya menjadi generasi muda kreatif dalam mengahdapi tantangan hidup ini.

“Temen-temen langsung ke halaman aja ya setelah ini, kita langsung main games. Yang mau ke kamar dulu silahkan tapi cepet,” kata si ketua acara.

Behh, ini nih yang dikhawatirkan. Pas acara games yang kita perkiraan akan pecah malah akan gagal karena ngantuknya temen-temen. Tapi, nggak. Semoga tetap bisa mulus sesuai rencana kita awal. Malam ini kita susun acara “Truth or Dare” yang lagi hits di instagram. Eh, tapi bukan karena lagi hits aja sih kita pilih games ini, melainkan kita juga punya statement-statement pendukung. Salah satu statement kita, yaitu semakin kita nggak malu nunjukin tingkah konyol kita atau kejujuran kita, semakin akrab pula kita-nya.

Lagi-lagi aku bilang kalau ini villa emang udah jodoh sama kita. Di depan terasnya udah ada tangga menurun menuju balkon terbuka yang luas. Muat deh 30-an anak kaya kita gini. Karena bentuknya persegi, jadi cewek dan cowoknya duduk mengotak (meng-kotak) deh. Di paling ujung antara cewek dan cowok kita kasih muda-mudi yang saudaraan, aman bukan? Hehehe.




Inti permainannya sama seperti biasa, kita cari cara supaya ada aja yang harus milih dari dua opsi, TRUTH atau DARE. Sepele kok, kita minta aja temen-temen untuk menghitung dari satu sampai seterusnya, tapi di setiap kelipatan tiga, kelipatan lima atau kelipatan lainnya diganti dengan “boom!” Yap, itu saja. Mudah? Iya kelihatannya. Nyatanya nggak sedikit yang salah karena grogi, salah ucap atau yang lupa bilangan selanjutnya. Yes, kita dapet korban!

“Ayo, milih TRUTH opo DARE?” Nah, kalau pertanyaan ini sudah muncul, biasanya dibalas dengan wajah ketakutan atau khawatir.

Kebanyakan di sini milih DARE, adapun yang udah milih TRUTH biasanya juga lari ganti ke DARE karena mending malu ketimbang rahasianya terbongkar, hahaha. DARE-nya macam-macam dong, ada yang harus ngambil upil di hidung temennya kaya Mas Alif dan Mas Miftah, berlutut di depan cewek yang ditaksir kaya Mas Surya atau muter-muter di tempat dilanjut jalan lurus kaya Mbak Nila, dan masih ada lagi. Tapi emang ini permainan lebih nyodorin peserta kena DARE ya, kalau jujur kan bisa aja bohong, ya kan?


Oh iya, pas main TOD ini, di saat posisi tiap muda-mudi terancam malu, tapi ada juga dua posisi muda-mudi yang paling aman pas permainan. Jadi pemimpin acara dan fotografer Mas Diki dan Mas Hafidz fotografernya. Kayanya aku baru kepikiran, kalau kita nggak mau jadi posisi terancam pas waktu TOD, jadi yang mimpin acara aja atau fotografernya ya.Kalau gak bisa pakai kamera mahal, kamera HP juga masih aman sih.

.....

Bisa dibilang nggak sampai 24 jam kita di villa, kita check in harusnya bisa jam 4 sore dan check out-nya pukul 2 siang. Ini jadi salah satu alasan kita membuat acara begitu padat. Tujuannya supaya nggak ada waktu kosong yang terlewat sia-sia. Sayang-sayang dong kalah uang sewa villa yang nggak sedikit cuma dipakai santai-santai aja. Time is memory di sini.

Nah, emang sengaja juga kita dari Sidoarjo berbekal sosis, jagung untuk dibakar setelah main games TOD. Biar kaya barbeque ala-ala gitu deh, bakar-bakar di tengah suasana dingin. Eh, ini juga masuk dalam susunan acaranya sih di proposal. Tapi karena dari awal waktunya serba molor, yang harusnya games dan barbeque ala-ala ini berakhir pukul 23.30 malahan pukul 23.30 baru dimulai. Seru banget-lah, apalagi momen kaya gini jarang-jarang. Bayangin deh, udah kaya acara malam tahun baru-an aja, tinggal nyalain kembang api-nya. Iya dibayangin aja tapi, karena kalau yang asli kita malam tahun baru-annya tetep di masjid.

Hmm, tapi di balik acara barbeque ala-ala yang seru ini, kayanya aku-nya deh yang nggak seru. Yang lain pada hura-hura di balkon, sedangkan aku tiba-tiba terperangkap dengan adaptasi hawa dingin Tretes dan nyeri pms. Alhasil aku hanya menghasbiskan malam di kamar. Sedih, bukan. Padahal harusnya malam ini tim acara sibuk nyiapin acara untuk empat games besok pagi yang harus lebih pecah dari TOD malam ini.

Komentar

Posting Komentar