CERPEN : Asrama Putri

 

Asrama Putri

Hari kemenangan Republik Indonesia memang sudah seharusnya dirayakan, mengingat perjuangan para pahlawan yang rela bertaruh nyawa demi berkibarnya bendera merah putih di negeri ini. Iya, tidak terkecuali di pondok.

Semarak 17 Agustus lebih terasa lagi saat guru wali pondok kita mengumumkan bahwa jam pengajian siang akan diliburkan selama seminggu untuk mempersiapkan lomba-lomba di sore harinya. Memang tidak banyak lomba yang akan diselenggarakan, terlebih untuk perempuan yang hanya bisa diadakan dalam ruangan. Anak laki-laki bisa saja dengan mudah lomba balap karung di tengah lapangan.

“Lomba apa ini kita? Anak laki sudah main-main di lapangan,” kata Aulia dengan logat Tarakannya saat masuk ke dalam kamar VVIP.

“Haduh, Aul! Makane talah ojok dulin ae. Iku loh Mbak Ketum (ketua umum) wes nempel lomba menghias kamar nak mading lantai bawah!” jawab Eka tegas bak ibu kos yang memarahi anak kos lagi nunggak bayar kos. Eka sedang duduk santai bersebelahan dengan Intan.

“Indonesian, pleaseee..,” balas Aulia dengan menunjukkan bibirnya yang maju karena kesal dengan Eka yang tidak hapal kalau dia tidak bisa berbahasa Jawa. Maklum, Aulia baru beberapa bulan di Jawa dan tidak bisa instan memahami apa yang anak kamar bicarakan. Selain Aulia, ada Dinda asal Makasar. Kalau Dinda lebih cenderung diam saat anak kamar ngobrol dengan bahasa Jawa.

“Itu loh kita ada lomba menghias kamar,” terang si Intan sambil melipat baju-bajunya.

Sebentar, mata Aulia mengelilingi sudut-sudut kamar, “Ya sudahlah kita mundur saja, mana bisa kita menghias-hias kamar. Kamar bersih saja sudah untung.”

“Iiih, Mbak Ayun,” kata Intan pada Ayun yang sedang duduk di luar kamar menghadap ke teras. Ayun menoleh. “Pusing lihat anak Mbak Ayun satu ini!” Bukan karena usia Ayun yang lebih tua dari anak kamar lainnya, melainkan di kamar ini sudah terbiasa saling memanggil dengan sapaan 'mbak'. Intan kemudian memasukkan beberapa sisa bajunya yang belum terlipat ke dalam loker. “Ayo ka, metu ae!” Tangan Eka langsung digandeng, diajak ke luar kamar dan turun ke lantai satu.

“Kamu sih, Ul sukanya bikin Mbak Intan sama Mbak Eka darah tinggi. Dikeluarin sama mereka dari kamar tau rasa tar!” ingat Yulia pada Aulia. Yulia lalu melanjutkan membaca buku di atas tumpukan tiga kasur, tapi diam-diam juga memperhatikan percakapan barusan. Kata-kata ini kadang membuat Aulia merasa dianak tiri-kan di kamar. Padahal tidak mungkin Intan sebagai ketua kamarnya akan mengeluarkan Aulia dengan alasan sepele, Aulia banyak ngeluh. Apalagi mengingat Aulia penyumbang jajan terbanyak di kamar saat awal-awal dia akan masuk kamar VVIP dan saat musyawarah kamar.

Aulia tidak begitu menghiraukan kata-kata Yulia barusan dan berganti mendekati Ayun. “Mbak Ayun sedang apa sih?”

“Ini, Ul. Aku lagi ngeringkas ceritanya Nabi Zakariya yang ada di surah Maryam awal,” jawab Ayun sambil tetap fokus pada Al-Quran-nya.

“Andai saja yang ditempel itu lomba menghitung huruf hijaiyah beserta harakatnya di salah satu surat Al-Quran, aku ajukan sudah Mbak Ayun jadi perwakilan kamar VVIP,” ucap Aulia berkhayal.

Ayun menoleh. “Apa Ul?”

“Tidak mbak. Semangat aja merangkumnya.” alasan Aulia.

.....

Kurang lebih perkataan Aulia ada benarnya. Akhir-akhir ini anak kamar VVIP lebih sering menghabiskan waktu sore di luar kamar. Ada yang suka hapalan di kelas, antri mandi sambil update info terbaru tentang pondok atau hunting gorengan terenak sekitar pondok. Meski begitu, lomba menghias tetap diselenggarakan. Batas akhir menghias besok dan kamar VVIP baru menghias kamar malamnya. Malam ini suasana kamar VVIP rasanya sesak dengan sampah origami, kertas hias warna, gunting, lem dan kertas yang berserakan.

“Nah, nah, kebiasaan deh Mbak Angel sama Mbak Ayun ini datang ke kamar selalu terlambat. Harusnya kan pulang ngaji langsung pulang. Lihat ini, aku sudah disiksa Mbak Eka, Mbak Intan. Disuruh gambar pisang, bendera, wajah bapak pembina pondoklah,” ujar si Aul nyerocos. Alasan umur Aulia yang paling muda menjadikan kita maklum di setiap mulutnya banyak tingkah begini.

“Ah, si Aulia ini. Diamlah. Tinggal gambar juga kau,” balas Dinda. Dinda jarang bicara tapi hobi nasehati Aulia. Karena senelumnya mereka pernah sekolah di satu tempat yang sama, tidak heran bila Dinda tahu kapan Aulia harus dinasehati. Dinda hobi nasehati Aulia, tapi nada tinggi Makasarnya terkadang membuat kita salah paham, sebenarnya dia sedang ngomel atau nasehati. “Ini, kamu ganti lipat-lipat saja.” Dinda memberikan origami dan gambar cara melipat jadi bentuk rumah, burung dan sebagainya.

“Ish, kau ini Din!”

Angel lalu menaruh tas dan duduk di sebelah Ulan. Sedangkan Ayun duduk di sebalah Yulia dekat tumpukan kasur.

“Mana Lan, sini aku bantu tempel,” kata Angel ke Ulan.

“Ini Ngel, nanti disambung-sambung.” Ulan memberikan kertas hias warna merah dan putih. “Nempelin warna putihnya nindihin merah aja trus nanti dikasih tusuk sate biar jadi bendera deh." Ulan tersenyum lebar. "Tema kita apa, Ka, aku lupa,”

“Tema kita merdeka mbek bebas, dadi bebas wes nggawe opo ae. LOSSS!!” jawab Eka semangat.

“Oh, oke, aku lepas jamm...” Kata-kata Angel terhenti. “I... ini jam 11 lebih malam kan Lan?” tanya Angel kaget sambil menelan ludahnya. Angel memandang pada Ulan. Sebentar Ulan berpikir, ia langsung teringat sesuatu. Ulan balik memandang Angel dengan tatapan muram. Anak kamar yang lain juga ikutan memandang Ulan dan Angel karena suara Angel yang agak keras barusan.

Ulan sebagai anak yang paling lama di pondok dari kalangan anak kamar VVIP tentu tahu apa maksud dari kata-kataku barusan. Ulan hapal aturan-aturan di asrama putri ini, salah satunya itu maximal tidur pukul 11 malam. Kalau lebih dari jam 11 mesti ada yang mengingatkan. Biasanya mbak ketuanya, anak yang jaga malam atau bisa jadi yang lainnya...

“Haduh Mbak Enj, pokonya kita harus selesaikan malam ini juga. Memang ada apa sih, dua bulan aku di sini juga tidak ada apa-apa kan. Kalau perlu sampai waktunya doa malam pun aku sanggup, asal siang besok aku bisa istirahat dengan tenang!” Lagi-lagi Aulia keluarkan jurus nyerocosnya.

“Eh, eh ada suara tau.” Ayun tiba-tiba mendengar sesuatu. Ayun melirik ke arah sebuah mangkuk berukuran sedang di depan pintu kamar. Aneh sih, jelas-jelas posisi kami jauh dari pintu kamar.

“Ah cuma angin,” respon Intan menenangkan.

Tidak begitu lama, si Aulia juga mendengar hal yang sama. Sontak mata Aulia memandang mangkuk itu. Kalau Ayun menoleh, biasa saja. Tapi kalau si Aulia yang noleh, semua serasa tergerak untuk ikutan noleh. Saking gak bisa wolesnya kadang dia.

“Hihh, suara apa itu. Bunyi ‘tek-tek’,” kata Aulia menjelaskan apa yang ia dengar barusan. “Itu mangkuknya jauh lho, siapa yang ketuk-ketuk?” imbuhnya penasaran membuat mata seisi kamar melirik ke arah mangkuk itu, tapi sama sekali tidak ada yang menyentuh.

Bulu kami rasanya bergidik halus ditambah sepoi angin yang masuk lewat pintu kamar lantai atas ini, “Hiih, wes ayo turu. Diilingno iki,” pesan Eka kemudian menggelar kasur. Disusul dengan Intan dan Ulan menyingkirkan barang-barang yang masih berserakan. “Dijadikan satu sek ae, Tan,” instruksi Ulan.

“Mbak Angel ingetin anak kamar bawah deh biar segera tidur juga,” ingat Yulia sambil menyapu lantai sedikit. Yulia tampak sedikit ketakutan.

“Iya tuh mbak. Anak kamar bawah rame sekali daritadi,” tambah Aulia sambil mengambil selimutnya dari atas lemari. “Tapi jangan lupa tutup pintu ya mbak kalau keluar,” tambah Aulia. “Nanti kalau mbak keluar yang mengingatkan masuk bagaimana?” Mata Aulia melotot dengan nada cemas.

“Aaaaaa! Apa sih mbak ini? Ayoo ayooo.” Tiba-tiba suara gurauan dari lantai satu terdengar amat keras kali ini. Bisa kubayangkan kalau anak kamar bawah masih menghias kamar.

“Sekarang, gih, mbak. Sebelum makin larut.”ujar Dinda dengan nada sedikit ketakutan juga yang berdiri di depan pintu kamar siap-siap akan menutup pintu.

“Iya, Din.” Jujur si Angel ketakutan, tampak dari raut mukanya. Tapi, mau gimana lagi.

Angel perlahan keluar dari kamar dan Dinda menutup pintu kamar. Sempainya di depan tangga, Angel langsung menuruni satu-persatu anak tangga dengan cepat. “Huhh!” Angel sampai di lantai bawah. Jantungnya berdegup begitu kencang. Sebentar, dia clingukan ke kanan dan ke kiri sekeliling lantai satu dengan hembusan nafas yang masih terengah-engah bercampur heran tidak karuan, “Ke... ke... kenapa semua udah pada tidur?” Keringatnya tiba-tiba mengucur perlahan. "Jadi, siapa yang dari tadi ramai?"

.....

In Frame :



Komentar

  1. Entah kenapa que merasa penulis memiliki dendam dg que 🙃

    BalasHapus
  2. But. Selalu support kok ! Luvt u dear♥️

    BalasHapus
  3. Sering2 upload bisa kek nya. Ya setiap hari lah ya

    BalasHapus
  4. Wah kisah HB seruni toh ini. Back story 17 Agustus 2018. Lomba kamar, melipat baju juga kalau gg salah

    BalasHapus

Posting Komentar