Asrama Putri | Eps 2 : Antri Jeding
Kreeeek..
Angel membuka pintu asrama putri dengan pelan. Malam itu ia sendiri. Entah kemana yang lain.
"Mbak Ririn?" Angel masuk sambil celingukan melihat seisi astri yang lengang. "Aul? Mbak Eka? Mbak Ayun?" panggil Angel mengabsen nama anak astri satu persatu.
Ia metutup pintu astri dan perlahan lalu masuk ke dalam. Aneh. Astri sedang sepi. Kemana yang lain?
"Huhuhuhuuuu... Huuuhuuu... Huuuhuuu.. "
Tiba-tiba suara sesenggukan tangisan terdengar dari arah dalam. Angel berusaha mencari asal suara itu. Berjalan melewati beberapa kamar di lantai bawah hingga menemukan asal suara itu dari gudang.
Pintu gudang memang sedikit terbuka, tapi mana berani Angel menengoknya. 'Bagaimana jika itu bukan manusia? Bisa-bisanya menangis sendiri malam hari,' pikirnya dalam hati yang sudah parno dengan kejadian malam setahun yang lalu. Sudah lama ia tidak membahasnya dengan anak asrama Putri karena pasti tak ada yang mengaku. 'Ah tidak, harus aku buka daripada penasaran!'
Dengan langkah sedikit ragu, kakinya bergerak maju, tangan kanannya mendorong pintu gudang dan matanya mencoba mengintip apa yang ada di sana.
Ia melihat mulai dari atas tembok. "Jam dinding, jam sebelas malam," katanya mengurutkan. Matanya melirik ke bawah dan tampak ada seorang perempuan berambut panjang sampai menutup wajah sedang duduk menangis. Napas Angel mulai tak karuan. Tak lama kemudian perempuan itu mengangkat kepalanya dan matanya melirik ke arah Angel.
"Aaaaaaaaaargh!! "
"Aduh!"
Angel membuka matanya. Ia mendapati sebuah penghapus papan tulis baru saja menghantam kepalanya.
"Mbak Angel, ini udah malem. Mbak Angel mau tidur kelas? " tanya seorang laki-laki yang tak lain teman sekelas Angel. Wajah laki-laki itu masih samar-samar. Angel masih mengantuk.
"Oh iya mas. Tadi kata Mbak Ririn mau ada musyawarah lomba 17-an buat ketua tim. Kayanya saya di prank deh," jawab Angel polos padanya. 'Tenang, Ngel. Itu cuma mimpi. Kayanya karna aku ketiduran dan belum doa jadinya mimpi buruk,' tenang Angel dalam hati dengan mengatur nafasnya.
Dengan sedikit mengantuk, mau tidak mau Angel memutuskan untuk balik ke astri. Masih ada rasa kesal di dalam hatinya karena Mbak Ririn malah meninggalnya di dalam kelas. Tak terasa sekitar setengah jam ia tidur di kelas. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Andai laki-laki tadi tak lewat, mungkin sampai subuh Angel akan ada di kelas.
Kreeeek....
Angel membuka pintu astri dengan lumayan keras, buah dari rasa kesalnya. "Mbak Ririn!" panggilnya saat memasuki astri.
Selangkah, dua langkah ia masuk, astri tampak sepi. Tidak ada yang menjawab panggilannya.
Kamar Mbak Ririn kosong. "Kemana Mbak Ririn dan yang lain?" tanyanya bingung. "Atau mereka membuat acara di lantai atas ya?"
Ia melirik jam. Pukul sepuluh lewat empat puluh menit artinya dua puluh menit menuju pukul sebelas malam.
Pikirannya langsung melayang dengan kejadian setahun lalu. Hatinya sudah mulai tak karuan. Sudah, lupakan! Yang kemarin hanya halusinasi saja.
"Huuhuuuhuhuuu... Huuuhuhuuu..."
Tiba-tiba suara tangisan perempuan seperti di mimpinya tadi terdengar. Deg! Nafasnya mulai tak beraturan. 'Enggak, ini bukan mimpi dan bukan seperti mimpi,' yakinnya dalam hati.
Semakin diabaikan, suara tangisan itu semakin keras. Ia sampai tak berani untuk naik ke kamar atas. Dengan terpaksa, akhirnya ia putuskan. 'Aku harus lihat, harus kupastikan jika itu memang manusia atau hanya halusinasi!'
Lagi-lagi dengan langkah ragu, ia jalan perlahan ke arah asal suara. Kali ini bukan dari gudang, melainkan dari kamar mandi sebelah dapur. Ya, letaknya memang ada di sebelum gudang.
Ia memegang pintu kamar mandi pelan. Dibuka sedikit, dan "Aaaaaaaarghh!!!!"
Ia berteriak mundur menjauhi pintu kamar mandi sampai mentok ke tembok. Ia melihat ada sosok putih bergelantung di kamar mandi.
"Hahahahah, PRANKK!!"
Sontak beberapa teman asrama lain muncul dari kamar bawah, ditambah Aul dan Mba Eka yang muncul dari bak kamar mandi kosong membawa guling putih yang disarungi kain putih. Itu yang dikira pocong tadi.
Rasa takutnya seakan mencair melihat ini semua. "Kenapa kalian tega sih?" kata Angel sedikit sedikit sedih bercampur kesal.
"Ups, Mba Angel marah," goda Aul sambil menutup mulutnya dengan tangannya dan bergaya mengece.
"Maaf, Angel. Sini sini." Mba Ririn mengajak Angel duduk dan dirinya duduk di depannya. "Sebenarnya tadi kita nggak ada jadwal musyawarah, itu rencana dari prank kita."
"Nyoh Mba Njel, nek nesu nak Mbak Ririn ae," sahut Mba Eka dengan logat jawanya.
"Iya, Mba Angel." Lagi-lagi Aul. "Jadi selain lomba menghias kamar, sebenarnya Mba Ririn buat lomba nge prank ketua kreatif. Hahaha, kan anak kreatif suka buat acara aneh-aneh tuh, sekali-sekali lah kita yang kerjain," jelas Aul menjengkelkan.
"Maaf Angel, maaf." Permohonan maaf disusul dengan tawa kecil berdatangan dari anak asrama putri lainnya. Kompak bener.
"Kalian jahat banget sih idenya, asli!" tanggapku yang kecewa tapi juga haru.
"Sebenarnya tahun kemarin Mba Angel ingat tidak, kita sudah itu mau ngerjain Mba. Tapi kita sudah kemalaman dan ketiduran," ucap Dinda dengan polos.
"Oh jadi yang tahun kemarin itu kalian?"
"Iya kita kan tidur duluan sih Mba, di kamar. Jadi ya tidak jadi. Dan eh tahun ini idenya muncul lagi" iseng Aul.
"Yaudah, yaudah. Sekian prank malam ini. Kita semua tidur ya." Mba Ririn menengok jam tangannya. "Lima menit lagi jam sebelas. Ingat! Peraturan tetap berlaku, tidur maksimal jam sebelas malam."
"Siap, Mba Ririn!"
Satu persatu teman-teman memeluk Angel lalu beranjak ke kamar masing-masing atau antri kamar mandi. "Maap ya"
.....
"Asli sih Len, prank tahun kemarin dan hari ini emang berhasil banget!" kata Angel pada Ulan saat antri jeding bersama. Di dalam jeding masih ada Intan, selanjutnya baru Ulan.
"Dua kali? Kan kita nge pranknya sehari ini aja Ngel. Tahun kemarin kan kita tidur dulu sih," balas Ulan. "Kamu tuh harusnya turun tangga trus anak-anak kagetin kamu pake suara gitu di kamar mandi. Eh tapi pada tidur udahan."
"Udah Len, gak usah sok-sokan nutupi. Mentang-mentang tahun kemarin aku gak sampai syok kaya gini trus gak mau diakui," ujar Angel ngeyel. "Tiba-tiba aja kalian sepi gitu biar aku takut, kan?"
Ulan menghembuskan nafas panjang. "Serah, deh Njel. Hantu astri kali, hantu gudang bawah."
"Apaan sih Len." Angel mendorong Ulan pelan bercanda.
Intan membuka pintu kamar mandi. "Len," katanya sambil mengisyaratkan jika ini giliran Ulan. Ulan pun masuk ke kamar mandi dengan membawa peralatan mandinya.
"Mba Angel!" Tiba-tiba seseorang memanggil dari arah lantai bawah. Siapa sih? Mau tak mau, Angel ke bawah dulu sebelum ke kamar mandi.
"Mba Rofiq? Ada apa?"
"Itu mba, pintu gudang kebuka dikit. Bantuin nutupin dong, takuuuut," kata Mba Rofiq seraya menunjuk pintu gudang.
Tanpa rasa gusar, Angel menutup pintu gudangnya. Tanpa melihat apa yang ada di dalamnya. Jangan sampai ini bagian dari prank lagi. "Udah, mba."
"Oke Mba Angel, baik deh," kata Mba Rofiq merayu.
"Yaudah, ayo ke kamar atas," ajak Angel.
"Engga deh, malam ini aku tidur kamar bawah, mba. Mba Angel ke atas sendiri aja, ya."
"Ye!" Dasar Mba Rofiq ada-ada aja. Angel jadinya naik tangga sendiri, ke atas sendiri.
"Eh Len?" heran Angel saat melihat Ulan ternyata masih ada di depan kamar mandi.
"Len, bukannya tadi udah masuk ya?" kata Angel sembari duduk di sebelahnya.
"Iya, tadi Intan masuk lagi," jawab Ulan datar. Tatapannya seperti kosong ke depan.
"Oh iya Len, barusan aja Mba Rofiq minta aku buat nutup pintu gudang yang tiba-tiba kebuka gitu. Aku sih takut, tapi udah deh aku gak mau kena prank lagi. Kalau iya prank, dua kali prank kalian gagal," ujar Angel dengan bangga.
"Itu semua bukan prank, Ngel," balas Ulan tetap dengan menghadap ke depan.
"Len?" Angel sedikit mendekat ke Ulan. Ia khawatir Ulan kesambet karna kelamaan nunggu kamar mandi.
"He Ngel!" panggil Ulan keras dari depan kamar. Sontak aku menoleh.
"Loh Ulan?"
"Itu kamar mandinya udah kosong. Udah aku siapin buat kamu malah gak masuk-masuk. Udah jam 11 nih!" buru-buru si Ulan.
"Ulan kan ada di..." Angel menunjuk ke arah kananku dan kosong.
Angel mencoba tenang. Dengan sedikit menyimpan rasa takut, ia berdiri dan berjalan menghampiri Ulan yang ada di depan kamar VVIP dengan membawa alat mandiku. "Lan, nggak lagi nge prank kan?" tanya Angel dengan wajah serius.
"Nge prank apa sih Njel?" Ulan balik bertanya.
Ia melirik ke arah rak alat mandi di depan kamar dan kudapati alat mandi Ulan memang sudah tertata di situ.
Krieeeeekk...
Pintu kamar mandi terbuka karena angin. Benar, kamar mandi sudah kosong.
Angel menelan ludahnya dengan rasa ketakutan. Hatinya kembali tak karuan. Ia lalu meletakkan alat mandinya di rak. "Udah Len, aku gak jadi ke kamar mandi," ucapnya sambil langsung masuk ke kamar.
Komentar
Posting Komentar