Resensi Buku (6) : "Titik Nol"

 

Lagi lagi buku pinjaman, aku pinjam dari taun lalu sejak puasa an. Sempat bosan karena jumlah halaman yang terkesan waw (untukku), tapi setelah mencapai setengah buku, hmm ternyata menarik juga untuk dilanjutkan. Fyi, saking lamanya aku baca, buku ini menemani aku sejak magang, sempro dan sampai sidang skripsi.

Let's check resensinya, enjoy!











Judul buku                          : Titik Nol

Nama pengarang               : Agustinus Wibowo 

Tahun cetakan                   : cetakan kedua, 2013

Ketebalan buku                 :  halaman 

Penerbit                    : PT Gramedia Pustaka Utama

Kelebihan dan kekurangan

- Kelebihan :  

1. Penulis menuliskan cerita dengan detail, alhasil pembaca bisa ikut merasakan apa yang dirasakan oleh penulis. Pembaca diajak berkeliling beberapa negara, seperti Afghanistan, India, Beijing lewat cerita sang penulis. Selain itu, penulis juga mengajak pembaca merasakan apa yang ia rasakan saat bertemu orang-orang yang ia jumpai di berbagai negara dan perasaan yang ia rasakan ketika bertemu lewat kata-kata. 

2. Tidak hanya mengenal negara, namun juga budaya, fenomena dan agama yang ada di negara yang disinggahi penulis. Alhasil, pembaca bisa menemukan kosa kata baru yang berkaitan dengan budaya, fenomena, maupun agama. Misalnya, mao, khatmandu, attar, Punjabi, dll..

- Kekurangan : 

1. (Karena untuk saya yang belum pernah membaca buku setebal ini) Buku ini terkesan tebal dengan 500 halaman dengan tulisan yang lumayan kecil. Meski ada gambar, namun masih bisa menjadikan new bie pembaca bosan.

Review :  Buku ini bagus untuk dibaca dari usia remaja ke atas dan memberikan cerita yang lama (tahunnya) tapi menyenangkan. Dengan alur yang maju mundur, namun tetap dengan patokan dimana ini pembaca bisa tau mana bagian cerita masa lalu dan masa sekarang. Namun sayangnya, untuk aku pribadi ada satu peristiwa di bagian akhir buku, dimana si penulis sedang berada di dalam pesawat dan bersamaan dengan ibunya yang meninggal. Jujur, kejadian ibu penulis meninggal ini menjadi hal yang aku tunggu karena ingin tau emosi yang muncul karena begitu menyedihkan momen-momen sebelum sang ibunda pergi, tapi aku dapat rasanya hanya kata-kata tersirat dan samar. 

Dibalut petualangan-petualangan seru dari seorang jurnalis sambil belajar kosa kata baru, pembaca akan diajak mengetahui jalan pulang dari sebuah perjalanan, dimana tidak ada perjalanan yang sia-sia atau disia-siakan oleh si jurnalis.

Tiga Hal yang aku petik dari buku ini : 

* Rasanya jalan-jalan itu perlu, menjelajah atau ya at least membaca buku perjalanan seperti ini guna tahu dan mengerti jika buminya Allah ini luas.

* Di hampir akhir halaman buku ini menyiratkan jika lingkungan membawa pengaruh pada kita. Saat lingkungan kita mengenalkan kita tentang ‘mati rasa’, bisa jadi secara tidak langsung lama kelamaan rasa iba akan hilang dari perasaan kita. Penulis menceritkan tentang kondisi di Afghanistan yang menjadi negara miskin, kelaparan dimana-mana dan kicauan bom sudah biasa terdengar. Sampai suatu ketika, saat si penulis sedang minum kopi dengan teman-temannya, tiba-tiba ada suara ledakan bom yang keras berjarak tidak jauh dari tempat mereka. Si penulis bertanya, “Suara apa itu?”. Teman-teman penulis menjawab dengan santai, “Hanya bom saja.” Ia juga menceritakan jika seorang jurnalis di Afghanistan memotret semua kisah suram di Afghanistan. Bahkan sudah mati rasa karena melihat potongan mayat adalah pengelihatan sehari-harinya, atau melihat anak yang kurus kering meronta. Namun begitu, sang jurnalis tetaplah seorang jurnalis yang membuat warta sebagai alat penyambung hidup. Bad news is good newsuntuk jurnalis.

* “Justru karena masih ada mimpi, kita jadi punya alasan untuk terus hidup, terus maju, terus berjalan, terus mengejar”

Komentar