Muhida Goes to Bali
Jumat, 16
Januari 2026 (Day 2)
Sejam di kapal nggak kerasa udah disuruh turun aja. Yeay,
kita udah nyampe Bali. Di kapal tadi juga jam di HP sudah ngikut WITA. Cus buat
perjalanan ke rumah makan Kenanga. Nah, sejak menginjak di Bali nih ngantuk mulai kerasa, but agak
sedikit merem melek karena bisnya ini melaju dengan cepat. Maklum ya, mungkin kalau
kata guru yang lain bis luar provinsi bisa jadi kaya gini karena kalau nggak udah
disalip sama yang lain.
Rumah Makan Kenanga
Nyampe di
rumah makan Kenanga sekitar jam setengah 4. Yaaa, takes 2 hours lah dari pelabuhan.
Sesuai rundown. Surprisingly di Bali ini subuhnya 04.48, masih lama yaaaa. Padahal
kalau di rundown kita cuma sejam di sini sampai jam 5 lalu lanjut ke Pantai
Lovina ngejar dholpin (haa?).
Jam 5 kurang kita sholat (dalam keadaan rata-rata sudah mandi
nih karena di sini ada banyaaaaaaaaak kamar mandinya), lanjut sarapan. Ini
sarapan pagi banget ya jam 5 lebih atau setengah 6. By the way aku masih loading
karena di sini setengah 6 masih subuh gitu menjelang pagi.
Sarapan, pembukaan dipandu oleh Bapak Abdullah. Tidak lupa sambutan dari PCM dan kepala
sekolah. Makanannya enak dan recommend sekali ini. Ini rumah makan buka pagi banget ya. Setelah itu foto dan go
to Lovina.
Pantai Lovina, Buleleng
Keluar dari rumah makan, tiba-tiba aja aku nge-lag pas lihat kembang-kembang khas Bali,
rumah-rumahnya dan daerah jalanannya sambil berbisik ke Bu Nisa sebelahku, ‘‘Bu,
ini Bali“ Bu Nisa ngerespon “Lha iya kan” Mungkin dia bingung aja kenapa aku
bilang gitu.
Kali ini di luar rundown karena kita memang telat sarapan,
kita pergi sampai di Lovina sekitar jam 8 kalau nggak salah. Padahal rencana
ngejar dholpin jam 6. Unfortunately, kita nggak bisa berlayar karena ombak lagi
ganas-ganasnya. Tapi nggak mau balik sia-sia dong, kita tetap manfaatkan untuk berfoto
sama pantai dan menyaksikan tradisi “Larung”. Pas kita dateng bareng ada keluarga yang akan
melarung abu.
Karena sekiranya sudah nggak ada yang bisa dinikmati lagi,
kita akhirnya milih bertolak ke Bedugul langsung. Kita mempersingkat waktu dan
supaya bisa lebih lama di destinasi kedua. Barang kali di Bedugul lebih bisa dieksplor.
Pura Ulun Danu, Bedugul
Jalanan ke Bedugul ini naik-naik ke puncak gunung. Parah sih. Parah jalanannya
dan parah viewnya. Mana ada kaya jalan tol melayang gitu lagi (maklum ndeso
ya). Eh, pas aku ngantuk tiba-tiba aja bis berhenti di tikungan dan spontan
kaget dong, kukira ada apa, ternyata ada beberapa penumpang yang kebelet ke
kamar mandi. Kalau tentang kamar mandi kayanya emang nggak bisa ditahan ya, syukurnya bisnya kuat ya berhenti di tikungan meskipun agak serem sih.
Perjalanan Lovina ke Bedugul sekitar 2 jam ya. Perjalanan ke
Bedugul ini melewati banyak tikungan tajam, baik tikungan naik atau turunan.
Terus disuguhi pemandangan
monyet bergelantungan di pohon. Tapi lama perjalanan terbayar dengan danau cantik
Bedugul. Baru masuk gapura, kita nggak lupa sama dokumentasinya dong. Selain Pak Mirza, Pak Putra juga punya kontribusi besar dalam dokumentasi, entah dia seksi perlengkapan atau apa tapi hampir di setiap destinasi selalu bawa banner. Jadi every place we visit, Pak Putra siap
siaga kasih banner buat foto.
Oh iya, setelah 2 destinasi ini, hal lumrah yang aku sadari
di sini yaitu dog is everywhere. Kalau di Jawa biasanya dimana-mana ada kucing, kalau di sini dimana-mana ada anjing. Biasa
untuk Bali tapi memang belum biasa untuk kami hehehe. Note buat yang mau ke Bedugul
bisa bawa jaket sih karena hawanya sedikit dingiiiin.
Yang nggak boleh dilewatkan dari Bedugul ini naik boat sih. Naik boat ini Rp. 200.000 per boat dan diisi lima orang. Kita bisa muter danau Bedugul dan difotoin sama sopir boatnya, bahkan dikasih waktu buat kita nyetir sendiri. Asyik nggak tuh. Kalau ada yang bilang mahal, hmmm menurut aku enggak sih karena buat pengalaman yang jarang bisa didapat.
Bli Widi kasih kita kosa kata baru dari Bahasa Bali, beberapa bahasa Bali ada yang sama dengan Jawa, misalnya wareg : kenyang. Tapi, ada juga yang berlawanan seperti ganteng, di Bali jadi kenthir, sedangkan jelek jadi sholih. So, kalau Bli Widi manggil bapak-bapaknya supaya cepet kumpul, beliau manggilnya "ayo bapak-bapakku yang kenthir-kenthir"
Joger
Jelek
Lanjut ke Joger. Nggak asing lah ya sama ini tempat. Pas terakhir aku ke sini, udah lama dan itu rame banget sampe aku mau beli baju aja senangkep aku dan aku langsung beli tanpa milih lagi daripada aku kelindas di kerumunan orang. But, kalau kemarin pas Joger lagi sepi, hanya dipenuhi warga Muhida.
Fyi, fakta
tentang joger yang bar aku tau, ternyata kalau di Joger ada keranjang khusus
barang reject. Ada kaos, hoodey atau sandal. Kenapa reject? Biasanya ada
tulisannya, entah kena noda atau belang. Barang reject ini bisa kamu dapetin
dengan potongan harga dari 10, 25 sampai 50 persen. Bu Ulfi aja dapet sendal
dengan harga 30 ribu padahal kalau dilihat masih bagus dan nggak kelihatan
nodanya. Sampe Bu Ulfi bandingin "Di Shopee loh 65, kene kenek 30 an aku."
Hotel truntum, Kuta
Puas belanja? Saatnya kita ke hotel. Perjalanan ke hotel kita 2 jam lagi. Emang deh kita dari satu destinasi ke destinasi lainnya memakan waktu dua jam. Keliling Bali bener. Dari Utara ke Selatan, dari Bali pinggiran ke gunung terus ke pantai. Setelah dua jam, kita masih harus naik komotra untuk ke hotelnya, mungkin karena jalanan menuju hotel yang hanya dilalui kendaraan sedang. It takes about 30 minutes kurang lebih karena full macet. Tapi, pas di perjalanan tuh aku amaze lihat jalanan Kuta sambil ngebayangin, jadi ini ya jalanan Kuta yang aku lihat di FTV itu.
First impression aku buat hotel Truntum adalah keren sih, ini depan pantai banget. Depan pantai Kuta banget. Kalau berdiri di depan hotelnya (menghadap ke hotel), pintu masuk Kuta itu di sebelah kanannya tinggal jalan. Kalau kita udah masuk hotelnya, nah akses Kuta tinggal ngelewatin restorannya aja. Gila sih, sarapan aja view kolam renang dan pantai Kuta.
Hotel truntum ini dulunya Grand Inna Kuta, hotel bintang 4 dengan ratusan kamar yang tersebar di 4 lantainya. Karena pesan kamar sebanyak 60-an kemungkinan nggak bisa jejer dan karena niatnya gathering, so kalau kita kamarnya mencar-mencar wajarlah ya. Ada yang di lantai 1, 2, 3 atau 4 di gedung A maupun B. Yang paling penting di setiap kamar ada dua single bed, AC central, kamar mandi, beserta amunitiesnya.
Kalau view pantai Kuta keren nggak ada obat. Sayangnya dikit kotor. Kita ngejar sunset di sini jam setengah 7, eh pas mendung. Tapi hasil foto di pantai Kuta keren pol. Semua tampak bahagia di foto. Ini terlalu indah untuk hanya sekedar difoto.
Malamnya acara bebas dan kita bisa makan dimana aja karena nggak ada makan malam bersama. Ada yang makan di restoran ayam goreng (lebih aman lah ya), ada yang ke Dewi Sri, ada juga yang makan di depan hotel (buka semacam restoran malam). Kalau aku? jalan kaki aja cari masakan Padang deket hotel. Ya, it takes 8 minutes kalau di maps. Realitanya ya nikmati jalan kaki aja sambil window shopping area Kuta. Sepanjang jalan Kuta mulai dari berangkat sampai pulang dari beli makan malam, bisa aku simpulkan kalau malamnya Kuta bukanlah tidur. Jalanan Kuta ramai, bukan yang macet tapi nggak sepi juga. Di jalanan banyak wisatawan jalan kaki entah asing atau lokal. Semuanya tampak menikmati Kuta, bahkan ada bis mini membawa turis asing yang tampak asyik joget-joget like a party on the bus. Oh iya, surprisingly harga oleh-oleh di sini agak kurang masuk akal sih. Aku nanya gantungan kunci aja 100 ribu dapat 5. Aku bukan bule, bli -_-


.jpg)


.jpg)

Komentar
Posting Komentar