Journey (5) : Muhida Goes to Bali - Day 3

 Muhida Goes to Bali 

"Memang, memori indah memang lebih baik disimpan di ingatan, tapi menulisnya juga bisa jadi pengingat yang manis, bukan?" 

Sabtu, 17 Januari 2026 (Day 3)

Tidak ada banyak waktu leha-leha lagi karena jam check-out hotel dipercepat. Yang tadinya pukul 9 pagi jadi setengah 8. Menuju setengah 8 sih cukup untuk mandi dan beres-beres barang. Keluar kamar hotel keadaan rapi siap untuk sarapan. Sarapan sudah siap sejak jam 6 pagi. Seperti kebanyakan hotel, makanan di sini prasmanan, ada makanan utama, roti-rotian, minuman sehat dan tidak sehat, scramble egg, serta lainnya, yang penting halal. Serunya kita sarapan sambil lihat view pantai Kuta dong.

Desa Panglipuran 

Mau tidak mau kita wajib mengembalikan kunci kamar hotel jauh sebelum jam check-out. Kita langsung mau pindah ke destinasi pertama di hari ke-3. Lokasinya ya lumayan jauh dari hotel Truntum karena kita kembali naik gunung. Katanya ini desa bersih yang viral itu lho. Di desa ini ada rumah penduduk yang bentuknya asli seperti layaknya rumah di Bali. Selain itu, di sini juga menyewakan baju Bali jika ingin berfoto. 

Sebelum ke lokasi, aku tuh search, kira-kira kaya gimana sih tempatnya karena takutnya dengan waktu yang singkat nggak bisa eksplor banyak hal. Di sosial media, gambar desanya sepi, pengunjungnya pun jarang-jarang jadi tampak kalau ini desa asri. Ditambah ada beberapa rumah yang jualan makanan atau jajanan. Udah kebayang nih kayanya hunting makanan dan menikmati area desa aja deh. But?

Unexpectedly gambar sosial media nggak seperti di realitanya. Rame banget, weekend kali ya. Bahkan bis kita nggak dapat tempat parkir awalnya. See? sudah kebayang gimana padatnya. Rombongan Muhida pun awalnya belum bisa masuk karena lokasi penuh, tapi lama kelamaan kami bisa masuk. Beeeh, ternyata sangat ramai. Ini kalau mau foto cuma aku dan desanya gimana ya? hahahaha, bisa sih hanya saja spot sepi jarang atau kita foto biasa sesuai pose keinginan lanjut di AI dengan prompt hilangkan orang-orang di belakang saya kaya Pak Chan dan Bu Ulfi nanti :) 

Jadi, masuk desanya itu nanti ada dua arah, ke kanan dan ke kiri. Aku ke arah kanan dulu. Di arah kanan kita jumpai beberapa rumah yang khas Bali. Kita bisa masuk ke rumahnya satu per-satu yang penting rumah itu buka. Di setiap rumah biasanya ada aja hal yang ditawarkan entah persewaan pakaian Bali atau makanan minuman. Di pintu masuk rumahnya atau gapura ada keterangan nih satu rumah ini dihuni berapa kepala. Kagetnya di sini rata-rata tulisannya 11 laki-laki dan 7 perempuan gitu. Tapi, di dalam satu gang rumah ini ternyata bisa jadi ada dua sampai tiga bangunan rumah. Mungkin jika sampai ada 20 orang it means keluarga besar gitu ya yang tinggal.  

Jalan sebelah kanan ini mentok naik tangga dan area pura lagi yang sebelahnya ada parkiran. Berbalik arah, jalin kami menurun sekalian menuju parkiran bis 2. Nah, untuk jalan sebaliknya ini kurang lebih sama menampilkan rumah Bali juga, tapi ada beberapa rumah yang sudah dimodofikasi modern. Lanjut jalan sampai ke bawah akhirnya ketemu juga bis 2. Yang tadinya kepengen jajan eh pas sampe bis baru sadar ternyata aku nggak beli apa-apa di desa ini, hahaha.

Krisna Blangsinga

Dari Desa Panglipuran, kita kita pindah ke tempat perbelanjaan Krisna. Kukira Krisna yang dimaksud ini yang ada di dekat tempat parkir hotel tadi, ternyata bukan. Krisna yang dimaksud ini cabang yang ada di Gianyar. Surprisingly ini tempatnya gede meski masuk-masuk ke gang gitu. Ada parkiran bis di depan, masuk gapura kita ditempelin stiker seperti biasa, lalu jalan menuju Krisna-nya ada taman kecil-kecilan. Kita awalnya makan dulu di lantai duanya. Makanannya enak dan khas Bali, ada sate lilit. 

Faktanya, di Desa Blangsinga ini memang desa pengerajin, bahkan Krisna memang bekerja sama dengan UMKM lokal, pengerajin sampai produsen rumahan untuk memasarkan produknnya secara meluas. Keren sih ini real membantu perekonomian warga sekitar dan tetap menyajikan produk Bali otentik. Selain itu, ternyata di Bali ini tidak menyediakan kresek atau kantong plastik ya guys, so di Krisna ini kita ditawari mau bawa sendiri barang belanjaannya atau kita beli tas belanja seharga 6 ribu rupiah.

Setelah makan, kita bisa sholat di bagian depan Krisna-nya. Musolanya nggak besar tapi cukup buat bergantian. Nah, barulah selesai kenyang dan menjalankan kewajiban, kita bisa berbelanja. Yap, kalau di sini kita bisa belanja aneka oleh-oleh. Ada pakaian, tas, kerajinan, makanan, sampai bodycare khas Bali. Pie susu pun macam-macam. Di sini kita dikasih waktu sampai jam tiga, ya sekitar 1 jam buat belanja. Ah mana cukup.. Terbukti kan bertolak dari Krisna ini hampir jam setengah empat.

Pertunjukan Tari Kecak, Uluwatu

Beberapa kali Bli Widi sudah mengingatkan kita untuk tidak boros waktu di destinasi sore karena kita akan mengejar waktu pertunjukan tari kecak di Uluwatu. Bli Widi bilang kalau pertunjukan dimulai pukul 6, sangat sayang bila kita terlambat. Beliau menambahkan, spesialnya, nanti kita bisa nonton tari sekaligus sunset di sana. Lagi-lagi jarak destinasi kami, Krisna Blangsinga ke Uluwatu sekitar dua jam. 

Untuk mempercepat perjalanan, kita ngelewati jalan tol atas laut. Namanya Tol Mandara. Tol ini jadi jalan tol kedua yang dibangun di atas laut setelah jembatan Suramadu. Jalan tol ini menghubungkan antara Denpasar ke Nusa Dua. Yap, kita mau ke tetangganya Nusa Dua yaitu Uluwatu. Sepanjang perjalanan di jalan tol disuguhi pemandangan laut, pulau Bali yang ada di seberang lautan dan dataran tinggi Bali yang tampak di depan mata.

Selepas keluar dari tol yang panjangnya 12 KM, kami melanjutkan perjalanan ke Nusa Dua lalu ke Uluwatu. Sedikit macet tapi tetap on road. Jalanan ke arah Uluwatu naik turun juga, tapi syukur kita tergolong cepat dan on time, bahkan kita sampai di pukul 6 kurang dikit. Sayangnya, kita sudah buru-buru mau masuk gate, kita tercegat belum boleh masuk, nggak tau kenapa apa mungkin lagi beli tiket dulu? Oh iya, fyi kalau kita masuk sini harus memakai selendang karena, kata Bli Widi, orang Bali percaya jika ini termasuk daerah suci, jadi meski bukan orang Hindu atau Bali, yang mampir wajib mengenakan selendang. Selendang oranye untuk perempuan digunakan sebagai sabuk, sedangkan selendang ungu untuk laki-laki. Padahal aku lebih tertarik sama selendang ungu sampai aku tanya ke Bli-nya, "Bli, kalau tukar selendang ungu boleh?" 

"Ayo sudah telat beberapa menit." Yap, itu kata ibu petugasnya untuk meminta kami secepatnya masuk karena memang kami terlambat. Kita terlambat hampir sepuluh menitan pas Rama keluar dan nggak lama masuk lagi. Aku duduk di bagian sayap kanan (dari arah penonton), padahal niatnya pengen di daerah tengah supaya bisa motret pertunjukan sekaligus sunset-nya. Duduknya dempet-dempetan tapi nggak apa-apa demi pertunjukan yang jarang kami tonton ini. Sepanjang nonton, Bu Dina dan Bu Irul saling cerita tentang jalan cerita pertujukan ini. "Oh ini Rahwana ya, oh ini Ramayana." Lumayan ini, serasa dapet pertunjukan sekaligus ceritanya secara live. Kadang juga Bu Irul membenarkan cerita yang Bu Dina sampaikan, ini sudah seperti pelajaran sejarah dadakan. Untungnya kalau mereka lupa sepenggal cerita nggak tanya ke aku tiba-tiba karena aku lupa lupa ingat dengan ceritanya apalagi ternyata si Rama di sini diperankan oleh wanita.

Satu jam nggak kerasa, pertunjukan ini hampir selesai. Aku rasa, selain olahraga tubuh, tari ini juga butuh olah suara dan olahraga mulut karena ngomong "cak..cak..cak.."nya berulang kali hampir setengah jam ada kali ya. Pemeran monyet putihnya alias Hanoman juga lucu banget sampai loncat-loncat ke penonton, ditambah adegan Hanoman nendang api itu amazing!


Pertunjukan kami berakhir bersamaan dengan matahari tenggelam, subhanallah indah banget. Baru ini aku suka sama sunset. Mungkin ini yang dirasakan para pengejar sunset. Bersyukur bisa lihat sunset di dua tempat yang indah : Kuta dan Uluwatu. Di sisi lain aku bersyukur Muhida pesan tiket pertunjukan pukul 6 karena bisa dapet view sore, sunset, langit ungu dan gelap. Langit ungu cantiknya kelewatan.

Nilai plus dari aku, di sini aku nemu toilet yang bersih. Perlu diacungi jempol sih. Terus? Ya balik ke bis. Eits, tapi tiba-tiba aja pas mau balik ke bis, orang di depan kami berhenti melangkah. Saat itu aku berjalan sama Bu Dina dan depan kami ada Bu Nina bersama Bu Irul. Oalah, ternyata ada sekumpulan monyet sedang santai di jalan kami. Bu Nina dan Bu Irul khawatir. Layaknya di film-film, kebetulan ada Bu fitri dan Bu Fifi datang dari arah belakang dan bantu kami melewati rintangan ini. Bu Fitri jalan paling depan seperti pawang dan memimpin jalan kami. Sesekali ia atau Bu Fifi mengingatkan kami, kalau nggak salah, "jalan sebelah kanan, jalan sebelah kanan." 

Tempat Perbelanjaan "Dewata"

Kita sholat maghrib dimana? Tenang, masih ada satu destinasi terakhir kita di Bali sebelum berlayar balik ke Jawa. Destinasi ini sepertinya nggak ditulis di rundown, tapi aku ingat kalau pas makan siang di Krisna, Pak Hadi spill akan belanja lagi setelah dari tari Kecak dan taraaaaa.... di sinilah kita.. Tempat Oleh-Oleh Dewata. Kita datang sekitar jam setengah sembilan, eits, tapi sebenarnya pas aku lihat di google tuh tempat ini sudah tutup sejak pukul 7 malam. Apa ini karena ada kita ya?

Di Dewata ini kita makan malam, sholat dan window shopping (lagi kalau masih pengen). Pas di bis sih ibu-ibu pada bilang "sudah nggak belanja lagi", tapi nyatanya ya rata-rata bawa tas belanja lah pas balik ke bis, entah cuma pie susu satu biji. Seperti biasa, makanan di sini enak, tempat sholat nyaman dan tempat belanjanya juga pas. Ya hampir mirip sih dengan Krisna, tapi ini lebih kecil. 

Awal masuk, khasnya sini, kita disuguhi protolan pie susu sebagai tester gitu kayanya. Kata Bli Widi memang di sini seperti itu, bahkan di Dewata ini mereka produksi pie susu sendiri. Ruang makan ada di atas sekaligus musola dan kamar mandi. Buat barang belanjaan di sini ada souvenir, pie susu, kacang disko, berbagai camilan, lalu ada kaos. Kaosnya beragam sih bahan, harga dan modelnya. Di sini ada kaos yang mulai dari 20 ribuan, tapi memang kualitasnya tipis. Enak deh, kalau tadi ada yang masih ngerasa kurang oleh-oleh dari Joger atau Krisna, Dewata jadi solusi terakhir.

Selajutnya, karena sudah kenyang, sholatpun sudah, kami kembali ke dalam bis untuk melajutkan perjalanan menuju dermaga. Di sinilah lokasi perpisahan kami (rombongan Muhida) dengan Bli pemandu. Yap, perjalanan kami ke dermaga membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam lagi. Saatnya tidur? Oh tidak untuk Pak Yatno. Pak Yatno diam-diam jalan ke bis bagian depan terus ambil mic dan? lanjut audisi tarik suaranya. Rasanya suara Pak Yatno dan lainnya yang bernyanyi sebagai alunan musik tidur bagi kami sampai nggak kerasa bis masuk di area dermaga Gilimanuk.

Komentar