Aku terima
Well, setiap orang pastinya pernah
merasakan tersakiti, disakiti atau ditinggal. Entah siapapun yang melakukan hal
itu padanya tetap akan meninggalkan kesedihan. Dan, tak perlu menyalahkan siapa
dia yang membuat kita sakit atau siapa yang meninggalkan kita atau siapa yang
membuat dia menyakiti dan meninggalkan kita. Lupakan itu. Karena sejatinya kita
tidak pernah meminta hal itu terjadi pada kita, bukan?
Lalu, apa yang harus kita lakukan? Iya.
Menerimanya adalah sebuah tanggung jawab kita sendiri, bukan orang lain. Atau,
dalam kata lain menerima hal yang menyakitkan adalah pilihan terbaik dari suatu
kesedihan yang menimpa kita.
Awalnya aku sama sekali tidak paham
mengapa aku bisa memilih jawaban untuk menerima kesakitan di saat sebenernya
menyalahkan orang lain menjadi jawaban paling bisa menenangkan hati atau
membuat kita merasa terhibur.
Aku pernah ada titik dimana aku merasa
tidak puas dengan hidupku. Banyak orang atau teman-teman yang meraih cita-cita
yang harusnya aku dapat. Aku hanya sebagai penonton dari kebahagiaan mereka.
Aku menyebut diriku kurang berhasil atau tidak berhasil. Semua itu menyedihkan.
Entah bagaimana ceritanya, aku rasanya hanya gadis yang pergi ke sekolah
pagi-pagi, makan bekal di jam istirahat kemudian pulang.Itu karena aku bukan
anak orang kaya seperti mereka, aku tidak punya banyak relasi yang bisa
mendukung banyak hobiku, memberi banyak motivasi, pikirku. Aku merasa mendapat beberapa
kegagalan dalam hidupku dan hidupku tidak tampak sempurna seperti yang ada di
novel-novel yang pernah aku baca sampai mengeluarkan air mata bahagia atau
sinema televisi yang membuat aku tersenyum geli.
Aku merasa banyak orang yang lebih
beruntung daripada aku, tapi mengapa keberuntungan itu tidak pernah berpihak
kepadaku. Keberuntungan hanya menceritakan apa yang ia berikan pada orang lain
dan siapa saja orang yang ia hinggapi untuk dapat kebahagian itu. Sehingga aku
merasa bahwa mengejar keberuntungan sama halnya dengan mengejar sesuatuyang
tidak nyata.
Beberapa kesedihan ini secara
berangsur-angsur aku rasakan tanpa aku temukan solusinya. Atau mungkin tidak
ada solusinya. Sampai di suatu saat aku terkejut mendapati seseorang berkata
bila ia "ingin berada di posisiku". Entah angin apa yang merasukiku.
Seakan sebuah hal yang tidak bisa ku percaya. Beberapa alur hidup yang tidak
aku inginkan tapi malah seseorang menginginkannya. Apa karena seharusnya
hidupku ini bukan berada di posisiku, namun ada di posisi-nya.
Kemudian selang beberapa tahun berlalu dan
saya baru mendapati bahwa aku percaya, kalau semua tanya akan ada jawabnya,
tapi tidak secara langsung. Jawaban akan datang pada kita. Benar. Aku melewatkan
banyak hal positif yang kurasakan dari beberapa kegagalan dan kesedihanku.
Ternyata aku membuang beberapa
tahun kesedihanku hanya untuk aku sesali tanpa melihat apa yang bisa aku
lakukan setelah kegagalan dan kesedihan itu datang menghampiri. Kalau dalam
agama menyatakan, "Allah mencoba hambanya untuk tahu mana hamba yang lebih
bertaqwa pada-Nya". Sedangkan seorang penulis dalam sebuah buku
mengatakan, "Jika ada seseorang lebih baik dari kamu mengenai sesuatu hal,
sepertinya itu karna dia telah mengalami kegagalan lebih banyak dari kamu"
dan benar. Aku adalah hamba yang sedang berusaha menambah taqwa dari setiap
cobaan dan aku adalah seseorang yang belajar menjadi lebih baik dari orang lain
karena kegagalanku.
Ada seseorang yang menjadi
panutanku dalam merubah pola pikirku. Dialah seorang wanita yang menyiapkan
sarapan untukku tiap pagi, yang menemaniku saat aku lelah merangkum
tugas-tugasku, yang mengobati sakitku yang tidak pernah bisa aku merasa sakit,
dan lain sebagainya. Ibu? Iya. Mungkin banyak yang akan mengidolakan seorang
figur ibu, tapi pastikan ibu yang kita idolakan bukanlah ibu yang setiap pagi
membuat sarapan, membersihkan rumah dan tidur di siang malam hari saja.
Perkenalkan, ibuku yang aku idolakan ini banyak mengajarkan hal
penerimaan. Beliau membuatku sadar bahwa di balik semua penerimaan pasti ada rahasia yang akan
terjadi dan menyalahkan orang lain atas kesedihan kita bukanlah jawaban yang
paling tepat untuk menghibur diri.
Beliau menerima saat beliau menjadi
seorang ibu rumah tangga, sementara teman-teman beliau menjadi seorang analis,
perawat dan cita-cita lain sesuai jalurnya. Menerima saat beliau harus melepas
kepergian kedua orang tua beliau di umur yang belum terhitung dewasa. Sampai
suatu ketika beliau harus menerima bahwa beliau mengidap penyakit kanker.
Semua alur ini aku pelajari bukan
dalam hitungan hari, minggu, bulan. Tapi tahun, bertahun-tahun. Aku (mulai)
terima. Menerima semua hal yang terjadi dan ternyata semua tidak seburuk yang
dibayangkan. Beberapa kesedihan dan kegagalan ini pasti tidak secara acak menghampiriku. Secara arti, pasti ada hikmah
dibalik semua hal yang aku sebut kesedihan dan kegagalan.
Aku juga mulai merubah pola pikirku
bahwa hidupku lebih menyenangkan dari yang lain. Aku kembali pada seseorang
yang iri pada cerita hidupku. Ternyata dia benar. Hidupku berhak untuk
dicemburui oleh orang lain. Karena di antara cerita kesedihan dan kegagalan,
masih ada sederet cerita bahagia dan menyenangkan yang tidak terlupakan.
Tertutupi oleh rasa menyesal terdalamku.
...
Saat itu, mobil ayahku malam-malam
berhenti di sebuah rumah. Kami berteduh di rumah itu dari hujan. Mata dan
kepalaku lelah merasakan perjalanan mobil dari pagi hingga malam hari. Sampai
ada seseorang yang memijat kepalaku. Tak hanya itu, orang itu juga melontarkan
beberapa pertanyaan mengenai penyebab kepalaku yang pusing sehingga ia
menyimpulkan, "Kalau ini gejala mata silinder. Saya juga pernah merasa seperti....."
Rasanya mataku seketika terbelalak kosong. Mataku silinder? "Jangan
banyak-banyak mikir, saya tahu kalau kami orangnya banyak mikir,"
lanjutnya.
Mataku menatap tembok dengan
tatapan kosong, hatiku berbisik, "aku terima. Hanya silinder. Dan ini
masih gejala, bisa saja aku akan sembuh normal lagi. Mama saja terima diberi
sakit yang lebih parah."
Terdengar mudah? Mungkin. Hati ini
terasa dipermudah untuk menerima setelah aku mengalami pelajaran penerimaan
tentang kesedihan yang amat sesak di dada. Sekitar sebulan sebelumnya saat ibu
meninggalkan kami (aku dan keluarga) dari dunia ini. Iya, ibu meninggal di
saat umurku belum bisa kukatakan dewasa. Tidak ada tanda-tanda yang kurasa,
mungkin. Karena aku lalui hari-hari ku amat bahagia dengan beliau.
Awalnya aku sangat terpukul dengan
peristiwa itu. Rasanya, kali ini aku tidak bisa terima. Rasa sedih berhari-hari
terus menghantui. Dan sampai di saat aku mengatakan pada diriku bahwa "aku
baik-baik saja. Beliau tidak ingin aku seperti ini." Sekitar dua bulan
berlalu, baru aku bisa belajar menerima. Aku baru belajar. Kukatakan ini bukan
hal buruk karena sebenarnya menerima bukan suatu hal yang mudah untuk dijalani.
Ini adalah cobaan penerimaan terbesar dalam hidupku untuk saat ini. Dan, mau tidak
aku pasti harus menerimanya.
Mungkin aku merasa pelajaran
penerimaan ini terlambat aku dapat. 20 tahun umurku aku rasakan dengan
penyesalan sia-siaku. Itu awalnya. Padahal yang sebenernya terjadi adalah 20
tahun umurku aku habiskan untuk belajar sesuatu yang hebat. Entah, setelah 20 tahun
umurku ini, pelajaran apalagi yang akan aku dapat. Dan, setidaknya pelajaran
penerimaan ini tidak terlambat untuk adik-adikku yang berumur belasan. Eits,
satu lagi yang aku dapat, bahwa semua tanya pasti ada jawabnya.
Hikmah dari setiap kejadian : Allah memberi hikmah pada orang yg allah kehendaki,dan siapapun yg diberi hikmah,sungguh dia telah di berikan kebaikan yg banyak 👏👏👏👍👍
BalasHapus👏👏👍👍
BalasHapus