Cerpen : Aku Terima


Aku terima

Well, setiap orang pastinya pernah merasakan tersakiti, disakiti atau ditinggal. Entah siapapun yang melakukan hal itu padanya tetap akan meninggalkan kesedihan. Dan, tak perlu menyalahkan siapa dia yang membuat kita sakit atau siapa yang meninggalkan kita atau siapa yang membuat dia menyakiti dan meninggalkan kita. Lupakan itu. Karena sejatinya kita tidak pernah meminta hal itu terjadi pada kita, bukan?

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Iya. Menerimanya adalah sebuah tanggung jawab kita sendiri, bukan orang lain. Atau, dalam kata lain menerima hal yang menyakitkan adalah pilihan terbaik dari suatu kesedihan yang menimpa kita.

Awalnya aku sama sekali tidak paham mengapa aku bisa memilih jawaban untuk menerima kesakitan di saat sebenernya menyalahkan orang lain menjadi jawaban paling bisa menenangkan hati atau membuat kita merasa terhibur.

Aku pernah ada titik dimana aku merasa tidak puas dengan hidupku. Banyak orang atau teman-teman yang meraih cita-cita yang harusnya aku dapat. Aku hanya sebagai penonton dari kebahagiaan mereka. Aku menyebut diriku kurang berhasil atau tidak berhasil. Semua itu menyedihkan. Entah bagaimana ceritanya, aku rasanya hanya gadis yang pergi ke sekolah pagi-pagi, makan bekal di jam istirahat kemudian pulang.Itu karena aku bukan anak orang kaya seperti mereka, aku tidak punya banyak relasi yang bisa mendukung banyak hobiku, memberi banyak motivasi, pikirku. Aku merasa mendapat beberapa kegagalan dalam hidupku dan hidupku tidak tampak sempurna seperti yang ada di novel-novel yang pernah aku baca sampai mengeluarkan air mata bahagia atau sinema televisi yang membuat aku tersenyum geli.

Aku merasa banyak orang yang lebih beruntung daripada aku, tapi mengapa keberuntungan itu tidak pernah berpihak kepadaku. Keberuntungan hanya menceritakan apa yang ia berikan pada orang lain dan siapa saja orang yang ia hinggapi untuk dapat kebahagian itu. Sehingga aku merasa bahwa mengejar keberuntungan sama halnya dengan mengejar sesuatuyang tidak nyata.

Beberapa kesedihan ini secara berangsur-angsur aku rasakan tanpa aku temukan solusinya. Atau mungkin tidak ada solusinya. Sampai di suatu saat aku terkejut mendapati seseorang berkata bila ia "ingin berada di posisiku". Entah angin apa yang merasukiku. Seakan sebuah hal yang tidak bisa ku percaya. Beberapa alur hidup yang tidak aku inginkan tapi malah seseorang menginginkannya. Apa karena seharusnya hidupku ini bukan berada di posisiku, namun ada di posisi-nya.

Kemudian selang beberapa tahun berlalu dan saya baru mendapati bahwa aku percaya, kalau semua tanya akan ada jawabnya, tapi tidak secara langsung. Jawaban akan datang pada kita. Benar. Aku melewatkan banyak hal positif yang kurasakan dari beberapa kegagalan dan kesedihanku.

Ternyata aku membuang beberapa tahun kesedihanku hanya untuk aku sesali tanpa melihat apa yang bisa aku lakukan setelah kegagalan dan kesedihan itu datang menghampiri. Kalau dalam agama menyatakan, "Allah mencoba hambanya untuk tahu mana hamba yang lebih bertaqwa pada-Nya". Sedangkan seorang penulis dalam sebuah buku mengatakan, "Jika ada seseorang lebih baik dari kamu mengenai sesuatu hal, sepertinya itu karna dia telah mengalami kegagalan lebih banyak dari kamu" dan benar. Aku adalah hamba yang sedang berusaha menambah taqwa dari setiap cobaan dan aku adalah seseorang yang belajar menjadi lebih baik dari orang lain karena kegagalanku.

Ada seseorang yang menjadi panutanku dalam merubah pola pikirku. Dialah seorang wanita yang menyiapkan sarapan untukku tiap pagi, yang menemaniku saat aku lelah merangkum tugas-tugasku, yang mengobati sakitku yang tidak pernah bisa aku merasa sakit, dan lain sebagainya. Ibu? Iya. Mungkin banyak yang akan mengidolakan seorang figur ibu, tapi pastikan ibu yang kita idolakan bukanlah ibu yang setiap pagi membuat sarapan, membersihkan rumah dan tidur di siang malam hari saja. 

Perkenalkan, ibuku yang aku idolakan ini banyak mengajarkan hal penerimaan. Beliau membuatku sadar bahwa di balik semua  penerimaan pasti ada rahasia yang akan terjadi dan menyalahkan orang lain atas kesedihan kita bukanlah jawaban yang paling tepat untuk menghibur diri.

Beliau menerima saat beliau menjadi seorang ibu rumah tangga, sementara teman-teman beliau menjadi seorang analis, perawat dan cita-cita lain sesuai jalurnya. Menerima saat beliau harus melepas kepergian kedua orang tua beliau di umur yang belum terhitung dewasa. Sampai suatu ketika beliau harus menerima bahwa beliau mengidap penyakit kanker.

Semua alur ini aku pelajari bukan dalam hitungan hari, minggu, bulan. Tapi tahun, bertahun-tahun. Aku (mulai) terima. Menerima semua hal yang terjadi dan ternyata semua tidak seburuk yang dibayangkan. Beberapa kesedihan dan kegagalan ini pasti tidak secara acak menghampiriku. Secara arti, pasti ada hikmah dibalik semua hal yang aku sebut kesedihan dan kegagalan.

Aku juga mulai merubah pola pikirku bahwa hidupku lebih menyenangkan dari yang lain. Aku kembali pada seseorang yang iri pada cerita hidupku. Ternyata dia benar. Hidupku berhak untuk dicemburui oleh orang lain. Karena di antara cerita kesedihan dan kegagalan, masih ada sederet cerita bahagia dan menyenangkan yang tidak terlupakan. Tertutupi oleh rasa menyesal terdalamku.

...

Saat itu, mobil ayahku malam-malam berhenti di sebuah rumah. Kami berteduh di rumah itu dari hujan. Mata dan kepalaku lelah merasakan perjalanan mobil dari pagi hingga malam hari. Sampai ada seseorang yang memijat kepalaku. Tak hanya itu, orang itu juga melontarkan beberapa pertanyaan mengenai penyebab kepalaku yang pusing sehingga ia menyimpulkan, "Kalau ini gejala mata silinder. Saya juga pernah merasa seperti....." Rasanya mataku seketika terbelalak kosong. Mataku silinder? "Jangan banyak-banyak mikir, saya tahu kalau kami orangnya banyak mikir," lanjutnya.
Mataku menatap tembok dengan tatapan kosong, hatiku berbisik, "aku terima. Hanya silinder. Dan ini masih gejala, bisa saja aku akan sembuh normal lagi. Mama saja terima diberi sakit yang lebih parah."

Terdengar mudah? Mungkin. Hati ini terasa dipermudah untuk menerima setelah aku mengalami pelajaran penerimaan tentang kesedihan yang amat sesak di dada. Sekitar sebulan sebelumnya saat ibu meninggalkan kami (aku dan keluarga) dari dunia ini. Iya, ibu meninggal di saat umurku belum bisa kukatakan dewasa. Tidak ada tanda-tanda yang kurasa, mungkin. Karena aku lalui hari-hari ku amat bahagia dengan beliau.

Awalnya aku sangat terpukul dengan peristiwa itu. Rasanya, kali ini aku tidak bisa terima. Rasa sedih berhari-hari terus menghantui. Dan sampai di saat aku mengatakan pada diriku bahwa "aku baik-baik saja. Beliau tidak ingin aku seperti ini." Sekitar dua bulan berlalu, baru aku bisa belajar menerima. Aku baru belajar. Kukatakan ini bukan hal buruk karena sebenarnya menerima bukan suatu hal yang mudah untuk dijalani. Ini adalah cobaan penerimaan terbesar dalam hidupku untuk saat ini. Dan, mau tidak aku pasti harus menerimanya. 

Mungkin aku merasa pelajaran penerimaan ini terlambat aku dapat. 20 tahun umurku aku rasakan dengan penyesalan sia-siaku. Itu awalnya. Padahal yang sebenernya terjadi adalah 20 tahun umurku aku habiskan untuk belajar sesuatu yang hebat. Entah, setelah 20 tahun umurku ini, pelajaran apalagi yang akan aku dapat. Dan, setidaknya pelajaran penerimaan ini tidak terlambat untuk adik-adikku yang berumur belasan. Eits, satu lagi yang aku dapat, bahwa semua tanya pasti ada jawabnya.

Komentar

  1. Hikmah dari setiap kejadian : Allah memberi hikmah pada orang yg allah kehendaki,dan siapapun yg diberi hikmah,sungguh dia telah di berikan kebaikan yg banyak 👏👏👏👍👍

    BalasHapus

Posting Komentar